Powered By Blogger

Senin, 19 Oktober 2015

Makalah Tafsir

TAFSIR
Memahami dan Menghayati Ayat-ayat Al-Quran mengenai Dimensional Manusia


1.     Surah Al-Mukminun ayat 33-34

Artinya:”(33) Dan berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya, dan yang mendustakan pertemuan hari akhirat, serta mereka yang telah kami beri kemewahan dan kesenangan dalah kehidupan di dunia, “(orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan apa yang kamu makan, dan dia minum apa yang kamu minum. (34) dan sungguh jika kamu menaati manusia yang seperti kamu, niscaya kamu pasti rugi”.

Penjelasan:
Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menjadikan sesungguh kaum Nuh umat yang lain. Ada pendapat yang mengatakan bahwa umat itu adalah kaum Ad, karena mereka menggantikan kaum Nuh. Adapula yang mengatakan bahwa mereka kaum Tsamud karena Allah berfirman, :Maka dimusnahkanlah  mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang mengajak mereka untuk mengesakan Allah. Lalu mereka mendustakannya, karena Rasul itu adalah  manusia seperti mereka juga. Mereka mengingkari akhirat dan hari berbangkit. Mereka berkata, “Apakah dia menjanjikan  kepadamu sekalian bahwa bila kamu telah mati dan telah  menjadi tanah dan tulang belulang kami sesungguhnya akan dikeluarkan? Jauh, jauh sekali apa yang diancamkan kepada kamu itu.”. Yakni hal itu tak akan mungkin terjadi. “Dia tidak lain hanyalah seorang manusia yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah”. Mengenai kerasulan, peringatan, dan pemberitahuan ihwal hari berbangkit yang disampaikan kepadamu itu. “Dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepada-Nya. Rasul itu berdoa ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku’ “. Yakni, Rasul itu meminta tolong kepada Tuhannya untuk mengalahkan mereka. “Allah berfirman, ‘dalam sesaat lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal’ “ Karena mereka mendustakan-Mu.” Maka dimusnahkanlah mereka dengan suara yang mengguntur dengan hak.”. Yakni, mereka berhak menerima siksa itu dari Allah karena mereka kafir dan melampaui batas.
Yang jelas bahwa guntur dan angin kencang yang sangat dingin bersatu menimpa mereka. “Dan kami jadikan mereka sampah banjir, “Yakni bergelimpangan dengan binasa seperti sampah banjir.”. Maka binasakanlah bagi orang-orang yang dzalim itu, “Yaitu orang-orang yang  mendzalimi dirinya sendiri karena kekafiran dan pendustaan mereka terhadap Rasulnya. Karena itu, hendaklah orang-orang yang menerima dan mendengar Al-Qur’an ini takut dan tidak mendustakan Rasul mereka agar siksa yang menimpa umat tersebut tidak menimpa diri mereka, dan mengambil pelajaran sehingga pelajaran itu menjadi berguna.”[1]

2. Surah Ar-Rum ayat 20

Artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan kalian dari tanah, kemudian tiba-tiba kalian menjadi manusia yang berkembang biak.”


Penjelasan:
Diantara bukti-bukti yang menujukkan bahwa Dia berkuasa atas segala sesuatu, seperti menumbuhkan dan melenyapkan, serta mengadakan dan meniadakan, ialan bahwasanya Dia telah menciptakan kalian dari tanah, lalu memberi kalian makan yang adakalanya dari daging hewan, air susu, minyak sanmin, dan adakalanya dari tumbuh-tumbuhan.[2]

3. Surat Ali Imran ayat 47

Artinya:”Maryam berkata: “Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun. “Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril: “demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kapadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.”

Penjelasan:
Ini merupakan kabar gembira yang disampaikan Malaikat kepada Maryam, bahwa Allah akan melahirkan darinya seorang anak yang mulia yang memiliki kedudukan tinggi. Allah swt berfirman “ingatlah ketika malaikat berkata: ‘Wahai Maryam sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan kalimat yang datang dari-Nya. Yaitu seorang anak yang keberadaannya melalui sebuah kalimat dari Allah, yaitu Allah berkata, kun “jadilah” maka jadilah ia.[3]

4. Surat Al-Isra ayat 70

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.

Penjelasan:
Allah swt memberitakan tentang keagungan dan kemuliaan anak cucu Adam pada penciptaan-Nya dengan sebaik-baik dan kesempurnaan bentuk rupa. Manusia adalah makhluk yang berjalan dengan kedua kakinya. Allah menciptakan indera pendengaran, penglihatan, dan hati agar dapat memahami dan mengambil manfaat melalui indera tersebut.[4]

5. Surah al-A’raf ayat 31

Artinya : “Hai anak Adam pakailah perhiasanmu setiap kali memasuki masjid. Makan dan minumlah serta janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Penjelasan:
Ayat ini merupakan bantahan terhadap kaum musyrikin yang melakukan tawaf di Baitullah sambil terlanjang, laki-laki bertawaf pada siang hari dan perempuan pada malam hari. Maka Allah berfirman “Hai anak Adam pakailah perhiasanmu setiap kali memasuki masjid.” Yang dimaksud perhiasan ialah pakaian yang menutupi kubul dan dubur. [5]

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan, pada zaman jahiliyah ada seorang wanita yang tawaf di Baitullah dengan telanjang bulat dan hanya bercawat secarik kain. Ia berteriak-teriak dengan mengatakan: “Pada hari ini aku aku halalkan sebagian atau seluruhnya, kecuali yang kututupi ini.” Maka turunlah ayat ini (QS. Al-A’raf: 31) memerintahkan untuk berpakaian rapi apabila memasuki masjid. 

6. Surah Al-Hujurat ayat 13

Artinya : "Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa juga bersuku-suku supaya kamu saling mengenal-ngenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.”

Penjelasan:
Setelah memberi petunjuk tata karma pergaulan dengan sesama muslim, ayat diatas beralih kepada uraian tentang prinsip dasar hubungan antar manusia. Karena itu ayat diatas tidak lagi menggunakan panggilan yang ditunjukkan kepada orang-orang beriman.[6]

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah), Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Beberapa orang berkata: “Apakah panas budak hitam ini azan di atas Ka’bah?” maka berkatalah yang lain: “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Dia akan menggantinya.” Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abi Mulaikah)
Dalam riwayat yang lain dikemukakan, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hind yang akan dikawinkan oleh Rasulullah kepada kepada seorang wanita Bani Bayadlah. Bani Bayadlah berkata: ”Wahai Rasulullah, pantaslah kami mengawinka purti-putri kami kepada bekas-bekas budak kami?” ayat ini turun sebagai penegasan bahwa Islam tidak ada perbedaan antara bekas bdak dan orang merdeka. (diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dalam kitabnya Mubhamat (yang ditulis oleh Ibnu Basykuwal), yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi Dawud di dalam tafsirnya)  

7. Surah Al-Baqarah ayat 165

Artinya : “Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman cinta mereka kepada Allah sangat kuat. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa pada hari kiamat, bahwa semua kekuatan adalah kepunyaan Allah dan bahwa Allah amat pedih siksanya (niscaya mereka menyesal).”

Penjelasan:
Pada ayat ini Allah memulai uraiannya dengan berfirman diantara manusia ada orang-orang yang menyembah apa yang dianggapnya tandingan-tandingan selain Allah baik berupa berhala, bintang, maupun manusia biasa yang telah tiada, atau pemimpin-pemimpin mereka. Padahal tandingan-tandingan tersebut adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya juga.[7]

8. Surah Al-Insyiqaq ayat 6

Artinya:”Wahai manusia sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kam akan menemui-Nya.”

Penjelasan:
Wahai manusia sungguh kalian telah mencurahkan segala jeripaya dalam menjalani kehidpan ini. Dan kalian telah bersungguh-sungguh dalam mengejar tujuan hidup yang kalian dambakan sampai akhir ayat. Apabila kalian tidak merasakan jeripaya kalian dalam beramal, atau kalian merasakannya tapi tidak memperhatikan dan setiap langkah kalian dalam beramal sesungguhnya merupakan langkah menuju ajal kalian, maka disanalah kelak kalian akan bersua dengan Allah. Sesungguhnya kematian akan dapat membukakan semua hakikat bagi ruh dan menunjukkan kepadanya perihal kebenaran. Ia akan mengetahui apa yang tidak disukainya setelah bertemu dengan Allah. Dan setelah hari berbangkit tiba, semua kepalsuan akan tampak jelas. Setiap amal perbuatan akan menghantarkan pelakunya pada perolehan balasan yang sepadan.[8]






KESIMPULAN
1.      Diantara bukti-bukti yang menujukkan bahwa Dia berkuasa atas segala sesuatu, seperti menumbuhkan dan melenyapkan, serta mengadakan dan meniadakan, ialan bahwasanya Dia telah menciptakan kalian dari tanah, lalu memberi kalian makan yang adakalanya dari daging hewan, air susu, minyak sanmin, dan adakalanya dari tumbuh-tumbuhan.
2.      Allah swt memberitakan tentang keagungan dan kemuliaan anak cucu Adam pada penciptaan-Nya dengan sebaik-baik dan kesempurnaan bentuk rupa. Manusia adalah makhluk yang berjalan dengan kedua kakinya. Allah menciptakan indera pendengaran, penglihatan, dan hati agar dapat memahami dan mengambil manfaat melalui indera tersebut.
3.      Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah), Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Beberapa orang berkata: “Apakah panas budak hitam ini azan di atas Ka’bah?” maka berkatalah yang lain: “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Dia akan menggantinya.” Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abi Mulaikah)
Dalam riwayat yang lain dikemukakan, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hind yang akan dikawinkan oleh Rasulullah kepada kepada seorang wanita Bani Bayadlah. Bani Bayadlah berkata: ”Wahai Rasulullah, pantaslah kami mengawinka purti-putri kami kepada bekas-bekas budak kami?” ayat ini turun sebagai penegasan bahwa Islam tidak ada perbedaan antara bekas bdak dan orang merdeka. (diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dalam kitabnya Mubhamat (yang ditulis oleh Ibnu Basykuwal), yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi Dawud di dalam tafsirnya) 





[1] Tafsir Ibnu Katsir,  jilid 3 
[2] Tafsir Al- Marogi, hlm. 67
[3] Tafsir Ibnu Katsir
[4] Tafsir Ibnu Katsir
[5] Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3
[6] Tafsir al mishbah (volume 13)
[7] Tafsir al mishbah (volume 1)
[8] Tafsir Al-Maraghi, hlm. 161 

Makalah Antropologi Agama

ANTROPOLOGI AGAMA
Pengertian, Sejarah, dan Ruang Lingkup Ilmu Antropologi 

A.    Pengertian Antropologi
Antropolgi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang manusia, baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman dan lain sebagainya. Antropolgi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata Antrophos dan Logos. Antrophos berarti manusia dan logos berarti memiliki arti cerita. Menurut Koentjaraningrat, antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Pengertian Antropologi Menurut Para Ahli
  • David Hunter- Antropologi merupakan sebuah ilmu yang lahir dari rasa ingin tahu yang tak terbatas dari umat manusia.
  • Koentjaraningrat- Antropologi merupakan studi tentang umat manusia pada umumnya dengan mempelajari berbagai warna, bentuk fisik masyarakat dan budaya yang dihasilkan.
  • William A. Haviland- Antropologi merupakan studi tentang umat manusia, berusaha untuk membuat generalisasi yang berguna tentang orang-orang dan perilaku mereka dan untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap dari keragaman manusia. 
Objek dari antropologi adalah manusia di dalam masyarakat suku bangsa, kebudayaan dan prilakunya. Ilmu pengetahuan antropologi memiliki tujuan untuk mempelajari manusia dalam bermasyarakat suku bangsa, berperilaku dan berkebudayaan untuk membangun masyarakat itu sendiri.
Antropologi budaya adalah antropologi yang mempelajari karakteristik tingkah laku manusia sebagai hasil kebudayaannya, baik dahulu, sekarang dan yanh akan dating. Antropolgi juga mempelajari kebudayaan pada umumnya dan kebudayaan berbagai bangsa di dunia.

B.     Sejarah Antropologi
Seperti ilmu-ilmu yang lain, Antropolog juga mempunyai sejarahnya sendiri. Antropologi sebagaimana adanya sekarang ini memang merupakan hasil perkembangan yang baru. Yang telah tua umurnya ialah bagian daripada Antropologi yaitu Etnografi, yang telah lama dikerjakan oleh orang-orang dari berbagai bangsa di dunia Barat misalnya kita ketemukan tulisan-tulisan Herodotus, seorang bangsa Yunani yang biasanya juga disebut sebagai bapak dari ilmu sejarah dan etnografi. Tulisannya mengenai bangsa Mesir misalnya dapat kita anggap sebagai tulisan dalam bidang etnografi yang terkuno. Perlu disini dikemukakan , bahwa penulisan-penulisan pada masa itu masih sangat subyektif dan mengandung sifat purbasangka dan etnosentrisme. 
Ilmu Antropologi muncul pertama kali karena ketertarikan bangsa Eropa yang melihat ciri fisik, adat istiadat, budaya masyarakat yang berbeda dengan apa yang selama ini dikenal dan dilakukan di Eropa. Antropologi melihat manusia dari dimensi fisik dan budaya. Untuk dimensi fisik contohnya adalah warna kulit, bentuk rambut, bentuk tengkorak, bentuk muka, dan ciri fisik manusia lainnya. Jadi, ilmu ini mempelajari  manusia sebagai makhluk biologis yang menyelidiki penyebaran dan diversitas manusia.

Sejarah Antropologi mengalami tiga fase:                                                                        
Fase Pertama (sebelum tahun 1.800-an)
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnogragfi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi
.)

Fase Kedua pada tahun 1.800-an
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

Fase Ketiga Awal Abad ke-20
)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.

Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.[1]


C. Ruang Lingkup Antropologi
a. Antropologi adalah Ilmu tentang Manusia dan Pekerjaannya   
Antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari umat manusia sebagai makhluk masyarakat. Perhatian ilmu pengetahuan ini ditujukan kepada sifat-sifat khusus badani dan cara-cara produksi, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dengan pergaulan hidup yang lain. Jadi dilihat dari sudut Antropologi, manusia dapat ditinjau dari dua segi; yaitu manusia sebagai makhluk biologi, dan manusia sebagai makhluk sosio-budaya.[2]
Di samping tinjauan ilmiah yang dilakukan oleh Antropologi terhadap manusia, terdapat pula tinjauan lain terhadap manusia ini yaitu agama. Berbeda dengan tinjauan ilmiah yang berpangkal kepada pengamatan empiris, tinjauan agama terhadap manusia berpangkal pad kepercayaan, kepada dogma-dogma, dan mendedukasikan kesimpulannya dari dogma-dogma itu, yang tidak diragukan kebenarannya. Apabila kita membandingkan tinjauan agama dengan tinjauan ilmiah terhadap manusia, memang terdapat perbedaan tetapi bukan pertentangan. Ilmu dan agama mempunyai tujuan yang sama, ialah untuk kesejahteraan umat manusia.[3]

b. Antropologi Fisik
Antropologi fisik menyelidiki manusia sebagai makhluk biologi. Ia mempelajari manusia dari sudut jasmaninya dalam arti yang seluas-luasnya. Hal yang diselidiki adalah adal-usul manusia, perkembangan evolusi organik, struktur tubuh dan kelompok-kelompok manusia yang kita sebut ras. Antropologi fisik juga mempelajari pengaruh lingkungan terhadap struktur tubuh manusia. Seperti kita ketahui, manusia adalah makhluk yang hidup dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial serta dalam lingkungan transenden. Dari ketiga lingkungan itu, lingkungan alamlah yang mengembang menjadi ekologi manusia. Sebagai contoh dapat disebut bahwa mungkin ada hubungan berkenaan dengan ukuran celah hidung yang berbeda-beda antara ras yang satu dengan ras yang lain.[4]
Satu cabang baru di dalam Antropologi fisik adalah penyelidikan terhadap proses perubahan yang berhubungan dengan soal keturunan. Ilmu yang menyelidiki masalah ini adalah Ilmu Genetika. Demikian itu apabila kita simpulkan persoalan dasar di dalam Antropologi Fisik.

 
c. Antropologi Budaya
Antropologi budaya adalah cabang besar dari antropologi umum yang menyelidiki kebudayaan pada umumnya dan kebudayaan-kebudayaan dan berbagai-bagai bangsa di seluruh dunia. Ilmu ini menyelidiki bagaimana manusia itu mampu berkebudayaan dan mengembangkan kebudayaannya sepanjang zaman. E.B. Tylor adalah yang mengemukakan definisi tentang kebudayaan untuk pertama kalinya secara sistematis. Dalam bukunya yang terkenal “Primitive Culture” ditulisnya bahwa kebudayaan adalah satu keseluruhan yang kompleks, yang terkandung di dalamnya pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan-kemampuan yang lain serta kebiasaan-kebiasaan yang di dapat oleh manusia sebagai anggota dari suatu masyarakat.[5]
Antropologi budaya menyelidiki seluruh cara hidup manusia. Ilmu ini mempelajari bagaimana manusia dengan akal dan struktur fisiknya yang unik itu berhasil merubah lingkungannya yang tidak ditentukan oleh pola-polan naluriah, melainkan berhasil merubah lingkungan hidupnya berdasarkan pengalaman dan pengajaran dalam arti yang seluas-luasnya.
Antropologi budaya mempelajari segala keanekaragaman kebudayaan manusia dan mencoba memberikan jawaban mengenai pertanyaan mengapa sesuatu bangsa itu cara hidupnya, adat-istiadatnya, sistim kepercayaannya, sistin ekonomi dan sistim hukumnya, keseniannya, sistim moral dan faham keindahannya berbeda atau dapat berbeda dari bangsa yang lain.[6]




[2] Prof. Drs. Harsojo. Pengantar Antropologi. Hlm. 13
[3] Prof. Drs. Harsojo. Pengantar Antropologi. Hlm. 13

[4] Ibid. Hlm. 16
[5] Prof. Drs. Harsojo. Pengantar Antropologi. Hlm. 18

[6] Ibid. Hlm. 19 

Kamis, 15 Oktober 2015

RINDU,,

Duhai Kekasih dari segala kekasih,,, 
ku peluk rindu dalam gelap
ku lepas rindu dalam sunyi
ku tanam rindu dalam mimpi

Duhai kekasih pemilik sanubari,,,
tak ada hujan tanpa mendung
tak ada senja tanpa siang
tak ada rindu tanpa kasih
tak ada hati tanpa CINTA,,, 

Ya Rahman,,, Ya Rahiim,,