TAFSIR
Memahami dan Menghayati Ayat-ayat Al-Quran mengenai
Dimensional Manusia
1.
Surah Al-Mukminun
ayat 33-34
Artinya:”(33) Dan berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya, dan yang
mendustakan pertemuan hari akhirat, serta mereka yang telah kami beri kemewahan
dan kesenangan dalah kehidupan di dunia, “(orang) ini tidak lain hanyalah
manusia seperti kamu, dia makan apa yang kamu makan, dan dia minum apa yang
kamu minum. (34) dan sungguh jika kamu menaati manusia yang seperti kamu,
niscaya kamu pasti rugi”.
Penjelasan:
Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menjadikan sesungguh kaum Nuh umat yang lain. Ada pendapat yang mengatakan bahwa umat itu adalah kaum Ad, karena mereka menggantikan kaum Nuh. Adapula yang mengatakan bahwa mereka kaum Tsamud karena Allah berfirman, :Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang mengajak mereka untuk mengesakan Allah. Lalu mereka mendustakannya, karena Rasul itu adalah manusia seperti mereka juga. Mereka mengingkari akhirat dan hari berbangkit. Mereka berkata, “Apakah dia menjanjikan kepadamu sekalian bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang kami sesungguhnya akan dikeluarkan? Jauh, jauh sekali apa yang diancamkan kepada kamu itu.”. Yakni hal itu tak akan mungkin terjadi. “Dia tidak lain hanyalah seorang manusia yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah”. Mengenai kerasulan, peringatan, dan pemberitahuan ihwal hari berbangkit yang disampaikan kepadamu itu. “Dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepada-Nya. Rasul itu berdoa ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku’ “. Yakni, Rasul itu meminta tolong kepada Tuhannya untuk mengalahkan mereka. “Allah berfirman, ‘dalam sesaat lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal’ “ Karena mereka mendustakan-Mu.” Maka dimusnahkanlah mereka dengan suara yang mengguntur dengan hak.”. Yakni, mereka berhak menerima siksa itu dari Allah karena mereka kafir dan melampaui batas.
Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menjadikan sesungguh kaum Nuh umat yang lain. Ada pendapat yang mengatakan bahwa umat itu adalah kaum Ad, karena mereka menggantikan kaum Nuh. Adapula yang mengatakan bahwa mereka kaum Tsamud karena Allah berfirman, :Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengutus pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang mengajak mereka untuk mengesakan Allah. Lalu mereka mendustakannya, karena Rasul itu adalah manusia seperti mereka juga. Mereka mengingkari akhirat dan hari berbangkit. Mereka berkata, “Apakah dia menjanjikan kepadamu sekalian bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang kami sesungguhnya akan dikeluarkan? Jauh, jauh sekali apa yang diancamkan kepada kamu itu.”. Yakni hal itu tak akan mungkin terjadi. “Dia tidak lain hanyalah seorang manusia yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah”. Mengenai kerasulan, peringatan, dan pemberitahuan ihwal hari berbangkit yang disampaikan kepadamu itu. “Dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepada-Nya. Rasul itu berdoa ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku’ “. Yakni, Rasul itu meminta tolong kepada Tuhannya untuk mengalahkan mereka. “Allah berfirman, ‘dalam sesaat lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal’ “ Karena mereka mendustakan-Mu.” Maka dimusnahkanlah mereka dengan suara yang mengguntur dengan hak.”. Yakni, mereka berhak menerima siksa itu dari Allah karena mereka kafir dan melampaui batas.
Yang
jelas bahwa guntur dan angin kencang yang sangat dingin bersatu menimpa mereka.
“Dan kami jadikan mereka sampah banjir, “Yakni bergelimpangan dengan binasa
seperti sampah banjir.”. Maka binasakanlah bagi orang-orang yang dzalim itu,
“Yaitu orang-orang yang mendzalimi dirinya sendiri karena kekafiran
dan pendustaan mereka terhadap Rasulnya. Karena itu, hendaklah orang-orang yang
menerima dan mendengar Al-Qur’an ini takut dan tidak mendustakan Rasul mereka
agar siksa yang menimpa umat tersebut tidak menimpa diri mereka, dan mengambil
pelajaran sehingga pelajaran itu menjadi berguna.”[1]
2. Surah
Ar-Rum ayat 20
Artinya
: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan kalian dari
tanah, kemudian tiba-tiba kalian menjadi manusia yang berkembang biak.”
Penjelasan:
Diantara bukti-bukti yang menujukkan bahwa Dia berkuasa atas segala sesuatu, seperti menumbuhkan dan melenyapkan, serta mengadakan dan meniadakan, ialan bahwasanya Dia telah menciptakan kalian dari tanah, lalu memberi kalian makan yang adakalanya dari daging hewan, air susu, minyak sanmin, dan adakalanya dari tumbuh-tumbuhan.[2]
Diantara bukti-bukti yang menujukkan bahwa Dia berkuasa atas segala sesuatu, seperti menumbuhkan dan melenyapkan, serta mengadakan dan meniadakan, ialan bahwasanya Dia telah menciptakan kalian dari tanah, lalu memberi kalian makan yang adakalanya dari daging hewan, air susu, minyak sanmin, dan adakalanya dari tumbuh-tumbuhan.[2]
3. Surat Ali Imran ayat 47
Artinya:”Maryam
berkata: “Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum
pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun. “Allah berfirman (dengan
perantaraan Jibril: “demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.
Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata
kapadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.”
Penjelasan:
Ini merupakan kabar gembira yang disampaikan Malaikat kepada Maryam, bahwa Allah akan melahirkan darinya seorang anak yang mulia yang memiliki kedudukan tinggi. Allah swt berfirman “ingatlah ketika malaikat berkata: ‘Wahai Maryam sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan kalimat yang datang dari-Nya. Yaitu seorang anak yang keberadaannya melalui sebuah kalimat dari Allah, yaitu Allah berkata, kun “jadilah” maka jadilah ia.[3]
Ini merupakan kabar gembira yang disampaikan Malaikat kepada Maryam, bahwa Allah akan melahirkan darinya seorang anak yang mulia yang memiliki kedudukan tinggi. Allah swt berfirman “ingatlah ketika malaikat berkata: ‘Wahai Maryam sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan kalimat yang datang dari-Nya. Yaitu seorang anak yang keberadaannya melalui sebuah kalimat dari Allah, yaitu Allah berkata, kun “jadilah” maka jadilah ia.[3]
4. Surat Al-Isra ayat 70
Artinya:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di
darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang
sempurna”.
Penjelasan:
Allah swt memberitakan tentang keagungan dan kemuliaan anak cucu Adam pada penciptaan-Nya dengan sebaik-baik dan kesempurnaan bentuk rupa. Manusia adalah makhluk yang berjalan dengan kedua kakinya. Allah menciptakan indera pendengaran, penglihatan, dan hati agar dapat memahami dan mengambil manfaat melalui indera tersebut.[4]
Allah swt memberitakan tentang keagungan dan kemuliaan anak cucu Adam pada penciptaan-Nya dengan sebaik-baik dan kesempurnaan bentuk rupa. Manusia adalah makhluk yang berjalan dengan kedua kakinya. Allah menciptakan indera pendengaran, penglihatan, dan hati agar dapat memahami dan mengambil manfaat melalui indera tersebut.[4]
5. Surah al-A’raf ayat 31
Artinya
: “Hai anak Adam pakailah perhiasanmu setiap kali memasuki masjid. Makan dan
minumlah serta janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
Penjelasan:
Ayat ini merupakan bantahan terhadap kaum musyrikin yang melakukan tawaf di Baitullah sambil terlanjang, laki-laki bertawaf pada siang hari dan perempuan pada malam hari. Maka Allah berfirman “Hai anak Adam pakailah perhiasanmu setiap kali memasuki masjid.” Yang dimaksud perhiasan ialah pakaian yang menutupi kubul dan dubur. [5]
Ayat ini merupakan bantahan terhadap kaum musyrikin yang melakukan tawaf di Baitullah sambil terlanjang, laki-laki bertawaf pada siang hari dan perempuan pada malam hari. Maka Allah berfirman “Hai anak Adam pakailah perhiasanmu setiap kali memasuki masjid.” Yang dimaksud perhiasan ialah pakaian yang menutupi kubul dan dubur. [5]
Asbabun Nuzul
Dalam
suatu riwayat dikemukakan, pada zaman jahiliyah ada seorang wanita yang tawaf
di Baitullah dengan telanjang bulat dan hanya bercawat secarik kain. Ia
berteriak-teriak dengan mengatakan: “Pada hari ini aku aku halalkan sebagian
atau seluruhnya, kecuali yang kututupi ini.” Maka turunlah ayat ini (QS.
Al-A’raf: 31) memerintahkan untuk berpakaian rapi apabila memasuki masjid.
6. Surah
Al-Hujurat ayat 13
Artinya
: "Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa juga bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal-ngenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
maha mengetahui lagi maha mengenal.”
Penjelasan:
Setelah memberi petunjuk tata karma pergaulan dengan sesama muslim, ayat diatas beralih kepada uraian tentang prinsip dasar hubungan antar manusia. Karena itu ayat diatas tidak lagi menggunakan panggilan yang ditunjukkan kepada orang-orang beriman.[6]
Setelah memberi petunjuk tata karma pergaulan dengan sesama muslim, ayat diatas beralih kepada uraian tentang prinsip dasar hubungan antar manusia. Karena itu ayat diatas tidak lagi menggunakan panggilan yang ditunjukkan kepada orang-orang beriman.[6]
Asbabun Nuzul
Dalam
suatu riwayat dikemukakan, ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah), Bilal
naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Beberapa orang berkata: “Apakah
panas budak hitam ini azan di atas Ka’bah?” maka berkatalah yang lain:
“Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Dia akan menggantinya.” Ayat ini
turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling
mulia adalah yang paling bertakwa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang
bersumber dari Ibnu Abi Mulaikah)
Dalam
riwayat yang lain dikemukakan, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hind yang
akan dikawinkan oleh Rasulullah kepada kepada seorang wanita Bani Bayadlah.
Bani Bayadlah berkata: ”Wahai Rasulullah, pantaslah kami mengawinka purti-putri
kami kepada bekas-bekas budak kami?” ayat ini turun sebagai penegasan bahwa
Islam tidak ada perbedaan antara bekas bdak dan orang merdeka. (diriwayatkan
oleh Ibnu Asakir di dalam kitabnya Mubhamat
(yang ditulis oleh Ibnu Basykuwal), yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi Dawud
di dalam tafsirnya)
7. Surah
Al-Baqarah ayat 165
Artinya
: “Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang
beriman cinta mereka kepada Allah sangat kuat. Dan jika seandainya orang-orang
yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa pada hari kiamat,
bahwa semua kekuatan adalah kepunyaan Allah dan bahwa Allah amat pedih siksanya
(niscaya mereka menyesal).”
Penjelasan:
Pada ayat ini Allah memulai uraiannya dengan berfirman diantara manusia ada orang-orang yang menyembah apa yang dianggapnya tandingan-tandingan selain Allah baik berupa berhala, bintang, maupun manusia biasa yang telah tiada, atau pemimpin-pemimpin mereka. Padahal tandingan-tandingan tersebut adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya juga.[7]
Pada ayat ini Allah memulai uraiannya dengan berfirman diantara manusia ada orang-orang yang menyembah apa yang dianggapnya tandingan-tandingan selain Allah baik berupa berhala, bintang, maupun manusia biasa yang telah tiada, atau pemimpin-pemimpin mereka. Padahal tandingan-tandingan tersebut adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya juga.[7]
8. Surah
Al-Insyiqaq ayat 6
Artinya:”Wahai
manusia sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu,
maka pasti kam akan menemui-Nya.”
Penjelasan:
Wahai manusia sungguh kalian telah mencurahkan segala jeripaya dalam menjalani kehidpan ini. Dan kalian telah bersungguh-sungguh dalam mengejar tujuan hidup yang kalian dambakan sampai akhir ayat. Apabila kalian tidak merasakan jeripaya kalian dalam beramal, atau kalian merasakannya tapi tidak memperhatikan dan setiap langkah kalian dalam beramal sesungguhnya merupakan langkah menuju ajal kalian, maka disanalah kelak kalian akan bersua dengan Allah. Sesungguhnya kematian akan dapat membukakan semua hakikat bagi ruh dan menunjukkan kepadanya perihal kebenaran. Ia akan mengetahui apa yang tidak disukainya setelah bertemu dengan Allah. Dan setelah hari berbangkit tiba, semua kepalsuan akan tampak jelas. Setiap amal perbuatan akan menghantarkan pelakunya pada perolehan balasan yang sepadan.[8]
Wahai manusia sungguh kalian telah mencurahkan segala jeripaya dalam menjalani kehidpan ini. Dan kalian telah bersungguh-sungguh dalam mengejar tujuan hidup yang kalian dambakan sampai akhir ayat. Apabila kalian tidak merasakan jeripaya kalian dalam beramal, atau kalian merasakannya tapi tidak memperhatikan dan setiap langkah kalian dalam beramal sesungguhnya merupakan langkah menuju ajal kalian, maka disanalah kelak kalian akan bersua dengan Allah. Sesungguhnya kematian akan dapat membukakan semua hakikat bagi ruh dan menunjukkan kepadanya perihal kebenaran. Ia akan mengetahui apa yang tidak disukainya setelah bertemu dengan Allah. Dan setelah hari berbangkit tiba, semua kepalsuan akan tampak jelas. Setiap amal perbuatan akan menghantarkan pelakunya pada perolehan balasan yang sepadan.[8]
KESIMPULAN
1. Diantara bukti-bukti yang menujukkan bahwa Dia berkuasa
atas segala sesuatu, seperti menumbuhkan dan melenyapkan, serta mengadakan dan
meniadakan, ialan bahwasanya Dia telah menciptakan kalian dari tanah, lalu
memberi kalian makan yang adakalanya dari daging hewan, air susu, minyak
sanmin, dan adakalanya dari tumbuh-tumbuhan.
2. Allah swt memberitakan tentang keagungan dan kemuliaan
anak cucu Adam pada penciptaan-Nya dengan sebaik-baik dan kesempurnaan bentuk
rupa. Manusia adalah makhluk yang berjalan dengan kedua kakinya. Allah
menciptakan indera pendengaran, penglihatan, dan hati agar dapat memahami dan
mengambil manfaat melalui indera tersebut.
3. Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Fathu Makkah
(penaklukan kota Mekkah), Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan.
Beberapa orang berkata: “Apakah panas budak hitam
ini azan di atas Ka’bah?” maka berkatalah yang lain: “Sekiranya Allah membenci
orang ini, pasti Dia akan menggantinya.” Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa
dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling mulia adalah yang paling
bertakwa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abi
Mulaikah)
Dalam
riwayat yang lain dikemukakan, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hind yang
akan dikawinkan oleh Rasulullah kepada kepada seorang wanita Bani Bayadlah.
Bani Bayadlah berkata: ”Wahai Rasulullah, pantaslah kami mengawinka purti-putri
kami kepada bekas-bekas budak kami?” ayat ini turun sebagai penegasan bahwa
Islam tidak ada perbedaan antara bekas bdak dan orang merdeka. (diriwayatkan
oleh Ibnu Asakir di dalam kitabnya Mubhamat
(yang ditulis oleh Ibnu Basykuwal), yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi Dawud
di dalam tafsirnya)
