Powered By Blogger

Senin, 08 Desember 2014

Akhlak Da’i dan Akhlak Pemimpin serta Metode Mencapai Perilaku yang Shaleh (Akhlak Karimah



Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahnya, kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang bertema ”Akhlak Da’i dan Akhlak Pemimpin serta Metode Mencapai Perilaku yang Shaleh (Akhlak Karimah)”.  Dalam Akhlak Tasawuf terdapat penjelasan dan karakter tentang Akhlak para Da’i dan Pemimpin. Selain itu dalam Akhlak Tasawuf ada beberapa metode mencapai akhlak yang baik (Akhlakul Karimah). Oleh karena itu, lewat makalah ini kami mencoba menyusun materi tersebut dengan salah satu tujuan sebagai tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf.
Tak ada gading yang tak retak, terlebih kami sebagai mahasiswa yang masih merangkak dalam memahami ilmu Akhlak Tasawuf. Oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi pengembangan ilmu yang lebih baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT atas segala nikmatnya yang luar biasa, hingga kamu mampu mengeja huruf demi huruf membentuk kalimat yang terangkum dalam makalah ini. Tak lupa kepada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang selalu memberikan motivasi dan ruang bagi kami serta kepada dosen yang telah memberikan arahan sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini. Besar harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan  para pembaca.
                                     
Ciputat, 13 Oktober 2014

PENULIS
BAB IPEMBAHASAN

Akhlak ialah sebuah perilaku yang datang dari diri sendiri tanpa adanya tekanan atau keterpaksaan.


Telah jelas bahwa ujian bagi para penyebar agama Islam yang paling sulit adalah para Nabi, kemudian orang-orang saleh, para Da’i/Mubaligh yang menyeru atau mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah SWT dan ikhlas dalam beribadah.
Dalam mempersiapkan diri yang telah mengikrarkan untuk berjalan mengikuti manhaj para Nabi dakwah, maka para Nabi harus membekali diri dengan akhlakul karimah. Sebab Da’i/Mubaligh di masyarakat menjadi suri tauladan secara langsung. Baik perilaku, sikap perbuatan, maupun perkataannya.
Jalan yang harus ditempuh selanjutnya, da’i harus senantiasa membersihkan jiwa. Segala apa yang mengganjal, menutup dan tersembunyi di hati nurani, da’i harus berusaha juga menerangi segala rahasia dirinya, dan senantiasa memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWt. Dengan demikian dirinya akan menjadi baik atas kuasa Allah Swt.
Para da’i memiliki ilham yang mana merupakan martabat yang tinggi dalam dirinya yang selalu menghubungkan dengan Allah. Di dalam hati Da’i ada bisikan-bisikan yang benar yang berada pada lisannya karena tergisik dari hati yang bersih.
Jiwa para da’i terlingkupi karomah, maksudnya da’i mempunyai wawasan, mau merubah keadaan jiwa, dari yang buruk ke yang baik. Dan selalu mengadakan penilaian apa yang telah dilakukan oleh jiwa. Mau menghukum dengan keras atas jiwanya yang menyimpang dari ketaatan, dari jamaah, merasa bimbang dengan keragu-raguan yang berubah-ubah.

Ada tanda-tanda orang saleh di antaranya:
·         Menghadirkan hati untuk menyaksikan keindahan sujud
·         Bersihnya lahir dan batin
·         Memulai salam
·         Meninggalkan kebengisan
·         Sabar dalam menghadapi bencana
·         Suka menerima cobaan untuk memperoleh bagusnya balasan
·         Suka memberikan harta demi mengharap Ridho Allah SWt
·         Tidak tertipu dengan kemewahan dunia
·         Menjauhkan diri dari omong kosong
·         Mensyukuri nikmat
Sifat atau tanda di atas dapat dijadikan tanda pendidikan rohani yang bersih. Hal itu dapat menghantarkan kebahagiaan da’i atau mubaligh yang semata-mata hanya ijtihad di jalan Allah SWt.
Menurut Jamaluddin Kafie, sebagai da’i, palaksana dakwah harus memperhatikan prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik yaitu:
a.       Sifat terbuka
b.      Berani berkorban
c.       Aktif berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat
d.      Sanggup menjadi pelopor dan perintis dalam kebajikan
e.      Mengembangkan sifat-sifat kooperatif, kemanusiaan, dan sikap-sikap toleransi, kebijaksanaan dan keadilan sosial
f.        Tidak menjadi parasit dan beban masyarakat
g.       Percaya diri dan yakin akan kebenaran yang dibawanya
h.      Optimisme dan tidak mudah putus asa.
Dengan demikian sikap da’i harus memahami kondisi dan situasi masyarakat yang menjadi sasarannya. Juga perlu terus menambah pengetahuan yang cukup luas. Karena beraneka ragam budaya di masyarakat, kompleksitas permasalahannya, maka da’i atau mubaligh harus bisa berinteraksi dengan alam lingkunga.
Sebagai Da’i, dia juga harus memiliki sikap dan kepribadian yang berani dan sanggup menyelesaikan tugas dan beban dalam rangka mempertahankan agama. Jadi, sikap dan kepribadian da’i atau mubaligh harus betul-betul menjiwai agama Islam.  

Tugas pemimpin tidak ringan. Tanggung jawab yang ia pikul senantiasa bernafaskan amanah. Baik amanah dari masyarakat/warga, negara dan agama. Agama Islam sangat memperhatikan masalah kepemimpinan. Menurut Islam, semua pemimpin akan diminta pertanggungjawaban. Pemimpin keluarga bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kesejahteraan keluarganya. Pemimpin negara/bangsa akan diminta pertanggung jawabannya oleh masyarakat dan lain sebagainya. Mengingat besar tanggung jawab seorang pemimpin, perlu mempunyai kepribadian, sikap dan karakter yang sesuai dengan kepemimpinannya. Dia harus memegang teguh kedisiplinan, mempunyai kewibawaan, penuh sabar dan tawakal dalam menghadapi permasalahan, lapang dada menerima kritik, berwawasan luas, memiliki akhlakul karimah dan sebagainya.
Sebagai contoh kepemimpinan setelah Rasulullah SAW, adalah para sahabat sebagai pengganti beliau dengan sebutan “Khulafaur Rasyidin”, ke empat sahabat tersebut telah menjalankan sebuah kepemimpinan di atas jalan yang Rasul tempuh dan mengamalkan wasiat-wasiat beliau.
                Abu Bakar sebagai orang yang berwibawa dan tenang. Orangnya penuh ramah tamah, cinta sesama dan selalu membenarkan dan menepati pada Rasul yang agung. Umar bin Khattab sebagai pemimpin yang mempunyai pendapat yang berbobot. Dia adalah orang yang terpercaya terhadap rahasia-rahasia Rasul. Usman sebagai pengumpul firman kitab Allah. Dia adalah seorang pemimpin yang meluruskan akidah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin yang pandai menyusun pasukan perang untuk mengalahkan orang-orang jahat. Dan Ali adalah seorang pemimpin yang mampu menjadi pewaris ilmu dan pemelihara janji.
                Demikian itulah sifat-sifat pribadi sahabat Rasulullah sebagai pemimpin islam yang besar. Mereka adalah pemegang amanat yang teguh dan kuat. Mereka benar-benar memiliki kepribadian yang utuh dan akhlakul karimah yang tinggi.
                Apabila seorang pemimpin memiliki  akhlak yang buruk di mana hanya mementingkan diri pribadi, dan terkekang oleh hawa nafsu, yang terjadi adalah kehancuran.

1.       Shiddiq
2.       Amanah
3.       Tabligh
4.       Fathonah
5.       ‘Iffah
6.       Zuhud
7.       Dan lain-lain


Cara atau wasilah untuk mendapatkan akhlak yang baik sangat banyak, akan tetapi yang paling menonjol diantaranya:
1.       Latihan praktek dan kebiasaan yang bersifat praktisi dari akhlak yang baik. Meskipun sangat berat di awalnya dan harus dengan memaksa diri. Ilmu di praktekkan  dengan memalui pengajaran, kearifan di praktekkan melalui tindakan yang arif, kesabaran di praktekkan melalui sikap sabar, sedangkan penjagaan diri di praktekkan melalui sikap menjaga diri dari hal-hal tercela. Rasulullah SAW bersabda:   

“Barang siapa ingin agar dirinya terjaga dari hal-hal tercela, maka Allah akan menjaganya dan barang siapa ingin kaya, maka Allah akan memberikan kekayaan kepadanya. Adapun barang siapa ingin bersabar, maka Allah SWT akan menganugrahkan sifat kesabaran kepadanya.”

2.       Bergaul dengan lingkungan yang baik, karena diantara manusia itu akan belajar dari lingkungannya. Dari sana  seseorang akan mendapatkan sebuah pelajaran  seperti akhlak, tradisi, adat kebiasaan dan berbagai tingkah laku yang di dapatkan dengan cara mengikut dan meniru orang lain.




Dari uraian yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa akhlak para Da’i dan Pemimpin sudah seharusnya memiliki akhlak yang baik (Akhlakul Karimah). Karena mereka menjadi tolak ukur dan panutan bagi orang-orang yang mereka dakwahi atau pimpin. Akhlak yang dimiliki Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dapat menjadi contoh dan panutan yang harus kita tiru.








Al-Qahthani, Sa’id, Menjadi Dai yang Sukses, (Jakarta: Qisthi Press, 2006).
Muhammad,  Ahmad al-Khufi, Bercermin pada Akhlak Nabi SAW, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2003).
Mustofa, Ahmad, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1997).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar