Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayahnya, kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang
bertema ”Akhlak Da’i dan Akhlak Pemimpin serta Metode Mencapai Perilaku yang Shaleh
(Akhlak Karimah)”. Dalam Akhlak Tasawuf terdapat penjelasan dan karakter tentang Akhlak para
Da’i dan Pemimpin. Selain itu dalam Akhlak Tasawuf ada beberapa metode mencapai
akhlak yang baik (Akhlakul Karimah). Oleh karena itu, lewat makalah ini kami
mencoba menyusun materi tersebut dengan salah satu tujuan sebagai tugas mata
kuliah Akhlak Tasawuf.
Tak ada gading yang tak retak, terlebih kami
sebagai mahasiswa yang masih merangkak dalam memahami ilmu Akhlak Tasawuf. Oleh
karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi
pengembangan ilmu yang lebih baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada Allah
SWT atas segala nikmatnya yang luar biasa, hingga kamu mampu mengeja huruf demi
huruf membentuk kalimat yang terangkum dalam makalah ini. Tak lupa kepada
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang selalu memberikan motivasi dan ruang bagi
kami serta kepada dosen yang telah memberikan arahan sehingga kami mampu
menyelesaikan makalah ini. Besar harapan kami, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami khususnya dan para pembaca.
Ciputat, 13 Oktober 2014
PENULIS
BAB
IPEMBAHASAN
Akhlak ialah sebuah perilaku yang datang
dari diri sendiri tanpa adanya tekanan atau keterpaksaan.
Telah jelas bahwa ujian bagi para
penyebar agama Islam yang paling sulit adalah para Nabi, kemudian orang-orang
saleh, para Da’i/Mubaligh yang menyeru atau mengajak manusia untuk mentauhidkan
Allah SWT dan ikhlas dalam beribadah.
Dalam mempersiapkan diri yang telah
mengikrarkan untuk berjalan mengikuti manhaj para Nabi dakwah, maka para Nabi
harus membekali diri dengan akhlakul karimah. Sebab Da’i/Mubaligh di masyarakat
menjadi suri tauladan secara langsung. Baik perilaku, sikap perbuatan, maupun
perkataannya.
Jalan yang harus ditempuh selanjutnya,
da’i harus senantiasa membersihkan jiwa. Segala apa yang mengganjal, menutup
dan tersembunyi di hati nurani, da’i harus berusaha juga menerangi segala
rahasia dirinya, dan senantiasa memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah
SWt. Dengan demikian dirinya akan menjadi baik atas kuasa Allah Swt.
Para da’i memiliki ilham yang mana
merupakan martabat yang tinggi dalam dirinya yang selalu menghubungkan dengan
Allah. Di dalam hati Da’i ada bisikan-bisikan yang benar yang berada pada
lisannya karena tergisik dari hati yang bersih.
Jiwa para da’i terlingkupi karomah,
maksudnya da’i mempunyai wawasan, mau merubah keadaan jiwa, dari yang buruk ke
yang baik. Dan selalu mengadakan penilaian apa yang telah dilakukan oleh jiwa.
Mau menghukum dengan keras atas jiwanya yang menyimpang dari ketaatan, dari
jamaah, merasa bimbang dengan keragu-raguan yang berubah-ubah.
Ada tanda-tanda
orang saleh di antaranya:
·
Menghadirkan hati untuk
menyaksikan keindahan sujud
·
Bersihnya lahir dan batin
·
Memulai salam
·
Meninggalkan kebengisan
·
Sabar dalam menghadapi
bencana
·
Suka menerima cobaan untuk
memperoleh bagusnya balasan
·
Suka memberikan harta demi
mengharap Ridho Allah SWt
·
Tidak tertipu dengan
kemewahan dunia
·
Menjauhkan diri dari omong
kosong
·
Mensyukuri nikmat
Sifat
atau tanda di atas dapat dijadikan tanda pendidikan rohani yang bersih. Hal itu
dapat menghantarkan kebahagiaan da’i atau mubaligh yang semata-mata hanya
ijtihad di jalan Allah SWt.
Menurut
Jamaluddin Kafie, sebagai da’i, palaksana dakwah harus memperhatikan
prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik yaitu:
a.
Sifat terbuka
b.
Berani berkorban
c.
Aktif berpartisipasi dalam
kehidupan bermasyarakat
d.
Sanggup menjadi pelopor dan
perintis dalam kebajikan
e.
Mengembangkan sifat-sifat
kooperatif, kemanusiaan, dan sikap-sikap toleransi, kebijaksanaan dan keadilan
sosial
f.
Tidak menjadi parasit dan
beban masyarakat
g.
Percaya diri dan yakin akan
kebenaran yang dibawanya
h.
Optimisme dan tidak mudah
putus asa.
Dengan
demikian sikap da’i harus memahami kondisi dan situasi masyarakat yang menjadi
sasarannya. Juga perlu terus menambah pengetahuan yang cukup luas. Karena
beraneka ragam budaya di masyarakat, kompleksitas permasalahannya, maka da’i
atau mubaligh harus bisa berinteraksi dengan alam lingkunga.
Sebagai
Da’i, dia juga harus memiliki sikap dan kepribadian yang berani dan sanggup menyelesaikan
tugas dan beban dalam rangka mempertahankan agama. Jadi, sikap dan kepribadian
da’i atau mubaligh harus betul-betul menjiwai agama Islam.
Tugas
pemimpin tidak ringan. Tanggung jawab yang ia pikul senantiasa bernafaskan amanah.
Baik amanah dari masyarakat/warga, negara dan agama. Agama Islam sangat
memperhatikan masalah kepemimpinan. Menurut Islam, semua pemimpin akan diminta
pertanggungjawaban. Pemimpin keluarga bertanggung jawab atas kebahagiaan dan
kesejahteraan keluarganya. Pemimpin negara/bangsa akan diminta pertanggung
jawabannya oleh masyarakat dan lain sebagainya. Mengingat besar tanggung jawab
seorang pemimpin, perlu mempunyai kepribadian, sikap dan karakter yang sesuai
dengan kepemimpinannya. Dia harus memegang teguh kedisiplinan, mempunyai
kewibawaan, penuh sabar dan tawakal dalam menghadapi permasalahan, lapang dada menerima
kritik, berwawasan luas, memiliki akhlakul karimah dan sebagainya.
Sebagai
contoh kepemimpinan setelah Rasulullah SAW, adalah para sahabat sebagai
pengganti beliau dengan sebutan “Khulafaur Rasyidin”, ke empat sahabat tersebut
telah menjalankan sebuah kepemimpinan di atas jalan yang Rasul tempuh dan mengamalkan
wasiat-wasiat beliau.
Abu Bakar sebagai orang yang
berwibawa dan tenang. Orangnya penuh ramah tamah, cinta sesama dan selalu
membenarkan dan menepati pada Rasul yang agung. Umar bin Khattab sebagai
pemimpin yang mempunyai pendapat yang berbobot. Dia adalah orang yang terpercaya
terhadap rahasia-rahasia Rasul. Usman sebagai pengumpul firman kitab Allah. Dia
adalah seorang pemimpin yang meluruskan akidah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib
sebagai pemimpin yang pandai menyusun pasukan perang untuk mengalahkan
orang-orang jahat. Dan Ali adalah seorang pemimpin yang mampu menjadi pewaris
ilmu dan pemelihara janji.
Demikian itulah sifat-sifat
pribadi sahabat Rasulullah sebagai pemimpin islam yang besar. Mereka adalah
pemegang amanat yang teguh dan kuat. Mereka benar-benar memiliki kepribadian
yang utuh dan akhlakul karimah yang tinggi.
Apabila seorang pemimpin
memiliki akhlak yang buruk di mana hanya
mementingkan diri pribadi, dan terkekang oleh hawa nafsu, yang terjadi adalah
kehancuran.
1.
Shiddiq
2.
Amanah
3.
Tabligh
4.
Fathonah
5.
‘Iffah
6.
Zuhud
7.
Dan lain-lain
Cara atau wasilah untuk
mendapatkan akhlak yang baik sangat banyak, akan tetapi yang paling menonjol
diantaranya:
1.
Latihan praktek dan
kebiasaan yang bersifat praktisi dari akhlak yang baik. Meskipun sangat berat
di awalnya dan harus dengan memaksa diri. Ilmu di praktekkan dengan memalui pengajaran, kearifan di
praktekkan melalui tindakan yang arif, kesabaran di praktekkan melalui sikap
sabar, sedangkan penjagaan diri di praktekkan melalui sikap menjaga diri dari
hal-hal tercela. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa ingin agar dirinya terjaga dari
hal-hal tercela, maka Allah akan menjaganya dan barang siapa ingin kaya, maka
Allah akan memberikan kekayaan kepadanya. Adapun barang siapa ingin bersabar,
maka Allah SWT akan menganugrahkan sifat kesabaran kepadanya.”
2.
Bergaul dengan lingkungan
yang baik, karena diantara manusia itu akan belajar dari lingkungannya. Dari
sana seseorang akan mendapatkan sebuah
pelajaran seperti akhlak, tradisi, adat
kebiasaan dan berbagai tingkah laku yang di dapatkan dengan cara mengikut dan meniru
orang lain.
Dari uraian yang telah disampaikan, dapat
disimpulkan bahwa akhlak para Da’i dan Pemimpin sudah seharusnya memiliki
akhlak yang baik (Akhlakul Karimah). Karena mereka menjadi tolak ukur dan
panutan bagi orang-orang yang mereka dakwahi atau pimpin. Akhlak yang dimiliki
Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dapat menjadi contoh dan panutan yang
harus kita tiru.
Al-Qahthani, Sa’id, Menjadi Dai yang
Sukses, (Jakarta: Qisthi Press, 2006).
Muhammad,
Ahmad al-Khufi, Bercermin pada Akhlak Nabi SAW, (Bandung: Pustaka
Hidayah, 2003).
Mustofa, Ahmad, Akhlak Tasawuf,
(Bandung: Pustaka Setia, 1997).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar