BAB
I
PENDAHULUAN
Pola kehidupan konsumtif berkembang
menjadi domain para produsen untuk menciptakan
peluangpeluang ekspansi baru bagi produk-produknya. Pangsa pasar
terbanyak untuk produk-produk tertentu,semisal fashion, parfum, jasa kecantikan
sampai sekarang masih didominasi perempuan sebagai konsumen terbanyaknya.
Namun, pola kecenderungan merawat dan memperhatikan diri bukan lagi hanya milik
perempuan; pola pikir semacam itu telah bergeser pula pada pria. Peluang inilah
yang sekarang ini mulai dilirik sebagian produsen karena kecenderungan yang ada
selama ini pasar pria belum tergarap dengan baik. Menggarap pasar pria bukanlah
sesuatu yang sia-sia mengingat semakin banyaknya pria tampil dalam berbagai acara,
misalnya sebagai DJ, VJ/presenter, pembicara di televisi, model/artis, dan
profesional lainnya yang membutuhkan penampilan yang baik ketika harus
berhadapan dengan klien.
Fenomena lain yang muncul dan menjadi peluang bagi para
produsen adalah kecenderungan eksekutif muda untuk memanfaatkan waktu luang
(leisure time) di luar rumah, seperti ke mal, music lounge, klub,salon dan spa.
Dahulu bagi pria urusan fashion dan perawatan tubuh bukanlah yang utama; bagi
mereka cukup berpakaian rapi bersih. Kini terdapat kecenderungan baru gaya.
Merek fashion yang dulu khusus untuk kaum hawa seperti „Esprit‟ sekarang mereka
menjual produknya untuk pria, demikian juga dengan Ovale‟ pembersih muka yang
memakai Ari Wibowo sebagai model iklannya. Awal mulanya produk ini khusus
perempuan dan sekarang pria pun memakainya. Akibat dari gaya hidup yang berubah
itu sekarang ini di pasaran membanjir produk kecantikan dan perawatan diri
berlabel “for men”. Pria menjadi lebih dekat dengan after shave lotion, pembersih wajah, pelembab muka,
wangi-wangian, pewarna rambut, sabun mandi, shampo, bedak tubuh, dan
sebagainya. Sejalan dengan itu, di pusat-pusat perbelanjaan saat ini jenis
pakaian pria beserta asesorisnya semakin beragam dengan warna-warna yang
semakin variatif pula.
Bermunculannya kebutuhan akan produk tersebut bukanlah
tanpa sengaja. Produsen melalui iklaniklannya dengan menggunakan ikon-ikon
ternama yang ber-style dandy dan modis seperti Ferry Salim, Ari Wibowo, dan
model-model lainnya telah membuat sebuah terobosan baru dalam peta pemasaran
produk dengan menciptakan sebuah kebutuhan baru bagi kaum pria.Gambar 1. Model
dengan penampilan dandy pada produk fashion for men (Sumber:Popular No. 160,
mei 2001)
BAB II
PEMBAHASAN
1. METROSEKSUAL
Istilah metroseksual sekarang ini sering kita dengar
dalam wacana umum komunikasi. Kata metroseksual pertama kali dicetuskan oleh
Mark Simpson di majalah salon edisi juli 2002.[1]
Namun ada juga sumber lain yang menyebutkan istilah ini pertamakali dicetuskan
oleh orang yang sama di Koran Inggris „The Independent‟ pada 1994.[2]
Bertolak dari dua sumber tersebut terdapat satu
pengertian bahwa metroseksual adalah sosok
narcissistic[3] dengan penampilan dandy (pesolek), yang tidak jauh dari penampilan
gaya dandan pria di media massa yang jatuh cinta tidak hanya terhadap diri sendiri,
tetapi juga gaya hidup metropolis.
Belakangan ini pria metroseksual bukanlah pria yang hanya
dandy dalam penampilan namun juga tipe-tipe laki-laki berduit, dengan pola
hidup bergerak menjangkau kota-kota metropolis yang menyediakan segala hal yang
terbaik seperti klub, spa, salon, butik, penata rambut, restoran, dan toko.
Kalau menilai dari penampilan luarnya orang mungkin mengira bahwa mereka adalah
kalangan gay, namun pria dalam kategori ini tidak harus serta-merta kalangan
gay atau homoseksual meskipun merekatidak berpretensi macho; ini bukan sekedar urusan preferensi
seksual. Pria tersebut bisa saja straightheteroseksual, namun menempatkan
dirinya sendiri sebagai obyek cintanya sendiri.
Pria yang memperhatikan dirinya sendiri, atau bisa
dikatakan mencintai dirinya sendiri, bukan merupakan wacana yang baru. Sejak
dulu pria juga selalu memperhatikan penampilan diri. Namun saat ini telah terjadi
perubahan signifikan pertanda makin kuatnya unsur venus dalam diri laki-laki.
Chamim, et al menjelaskan gejala tersebut dengan memberi contoh bahwa dulu di
era 70-an para lelaki dilingkupi suasana serba maskulin dengan Charles Bronson
sebagai men-idolnya. Pada dasawarsa 80-an kumis lebat mulai dicukur; meskipun
idola masih bertahan pada sosok yang macho. Satu dasawarsa berikutnya minat pria
mulai bergeser pada perawatan wajah dan parfum dan terakhir mereka mulai
melirik perawatan kuku kaki-tangan (manicure-padicure) ditambah spa dan pijat
refleksi.[4] Dan
idola pun bergeser pada sosok yang kasual seperti Beckham, Ian Thorpe, Brad
Pitt, dan sebagainya. Ciri lain dari pria metroseksual adalah mereka
sosok
yang berani bereksperimen dengan fashion. Gaya rambut Russel Crow dalam „Master
and Commander’ seharga US$ 150 ribu.[5]
Demikian juga dengan David Beckham dalam penampilannya
selalu memakai pemoles kuku dan mengundang penata rambut terbaik Inggris Aida Phelan
untuk memastikan model rambut Mohican-nya agar tetap prima.[6]
Pembeli stoking terbesar lewat internet 85% adalah pria
dimana kadangkala mereka membeli dua model, satu yang berukuran besar untuk
dirinya sendiri dan yang berukuran kecil untuk pasangannya.[7]
2. GAYA
HIDUP POSMODERN
Gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan
antara satu orang dengan orang yang lainnya.[8] Pola-pola
kehidupan ini kadang diartikan orang sebagai budaya; yang artinya keseluruhan
gaya hidup suatu masyarakat-kebiasaan/adat istiadat, sikap dan nilai-nilai
mereka serta pemahaman yang sama yang menyatukan mereka sebagai suatu kelompok
masyarakat.
Gaya hidup lebih pada seperangkat praktik dan sikap yang
masuk akal dalam konteks tertentu[9]atau
cara-cara terpola dalam menginvestasikan aspekaspek tertentu kehidupan
sehari-hari dengan nilai sosial atau simbolik; Tegasnya, gaya hidup adalah cara
bermain dengan identitas.[10]Contohnya
adalah merokok. Apabila dilihat berdasarkan hal-hal yang melekat dalam
organisasi sosial dari realitas-realitas lokal dan bukan dari sudut pandang
patologis yang melihat „rokok‟ sebagai hal yang menyimpang, merusak kesehatan
dan mengganggu kepentingan umum makamerokok dipandang sebagai unsur integral
gaya hidup dalam organisasi peristiwa sosial dan bisa pula ritual identitas
sosial.Adakah perbedaan signifikan antara cara hidup (way of life) dengan gaya
hidup (lifestyle)? Chaney menjelaskannya definisi gaya hidup dengan menggunakan
tema pendekatan sosial: situs (site) dan strategi. Dalam hal ini itus (site)
bukan merupakan tempat-tempat yang dapat dikenali dalam suatu lingkungan fisik,
melainkan metaphor fisik bagi ruang-ruang yang dapat disediakan dan dikontrol
oleh aktor (individu atau kelompok). Dari sudut pandang strategi, gaya hidup dipahami
sebagai cara-cara khas perjanjian sosial
(social engagement) atau narasi-narasi dari identitas dimana aktor
(individu atau kelompok) dapat menyimpan metafor-metafor yang ada. Dari dua
pendekatan ini bisa diartikan pula bahwa gaya hidup adalah projek kreatif dan
hal tersebut adalah bentuk pendeklarasian yang memuat penilaian aktor-aktor
dalam menggambarkan lingkungan. Sementara itu, cara hidup (way of life) ditampilkan
dengan ciri-ciri seperti norma, ritual, pola-pola tatanan sosial, dialek atau
cara berbicara yang khas.[11]
Chaney menambahkan bahwa
cara hidup pada bentuk-bentuk sosio-stuktural seperti pekerjaan, gender,
lokalitas, etnisitas dan umur pun bisa masuk dalam kategori ini dimana
faktor-faktor tadimembentuk identifikasi baru gaya hidup atau cara-cara
berperilaku yang berkaitan dengan ekspektasiekspektasi konvensional yang
kemudian membentuk pola-pola baru pilihan melalui cara-cara pola cita rasa yang
membentuk dan menyokong hierarki hak-hak istimewa dan status.[12]
Savage, et al. dalam Chaney membuat klasifikasi gaya
hidup bagi kelas menengah menjadi tiga: asketis, posmodern dan awam
(undistinctive). Ciri nyata yang pokok dari gaya hidup posmodern adalah kecenderungannya
melakukan perayaan-perayaan gaya hidup tertentu dan terjadi pengaburan
pembedaan gaya konvensional dimana ekstravagansa tingkat tinggi berlangsung
terus bersama budaya tubuh; apresiasi terhadap opera dan musik klasik
bergandengan erat dengan kegandrungan akan disko dan balap mobil. Sehingga,
menurut Savage, jika para intelektual sektor publik pada saat modernitas dulu
bertindak sebagai garda depan penghapusan posisi sosial dengan pendekatan stilistiknya
yang istimewa sekarang hal itu telah ditumbangkan oleh generasi berikutnya
dengan cara melampaui tatanan budaya modernitas.[13]
Budaya tubuh atau budaya cita rasa yang merupakan ciri
gaya hidup posmodern itu dapat diamati dari sudut pandang penampakan luar
(surfaces). Warna dan gaya rambut, cara berpakaian, kendaraan yang dipakai atau
makanan yang dikonsumsi dapat mengidentifikasikan seseorang dengan suatu ikon
budaya cita rasa tertentu. Chaney melihat bahwa penampakan benda-benda,
penampakan luar kehidupan metropolitan yang gemerlapan, petunjuk visual seperti
citraan iklan (advertising imagery), berdirinya bangunan komersial dan publik,
carut marut aksesori jalan, sampah, dan ikonografi publik lainnya merupakan
suatu tontonan visual (visual spectacle) yang menghasilkan suatu citraan visual
(visual emagery) yang menjadi prasyarat menentukan kehidupan sehari-hari bagi
budaya modernitas. Demikian pula citraan-citraan luar telah menjadi sumber daya
dalam mengkomunikasikan dan mengangkat makna, menata dan memanipulasi identitas
sosial sehingga gaya hidup terartikulasi melalui perubahan secara konstan
tontonan dari penampilan-penampilan tampakan luar.[14]
Baudrillard (dalam Featherstone) melihat bahwa taraf
produksi image tersebut telah membawa perubahan masyarakat secara kualitatif
yang di dalamnya perbedaan antara realitas dan image menjadi kabur, kehidupan
sehari-hari mengalami estetisikasi. Ruang dan waktu merupakan dunia
simulasional atau dia sebut dengan budaya posmodern.[15]
Dalam wacana ini fungsi periklanan telah bergeser dari
penekanan rasionalitas terhadap kepuasan fungsional menjadi penekanan atas
keikutsertaan kemampuan audiens dalam menciptakan tampakantampakan luar dari
makna melalui manipulasi ikatan dan pemunculan yang pada akhirnya menjadi ciri yang
konstan dari modernitas akhir.
Leiss et al. dalam Chaney mengajukan suatu
rangkaian perkembangan periklanan selama abad 20. Tahap awal iklan masih bersifat idolatry
(produk-produk disajikan dalam nilai guna murni), kemudian iconology
(produk-produk diberi atribut-atribut simbolik), narsisisme (produk-produk
dipersonalisasi dan dinilai secara interpersonal) dan perkembangan terakhir adalah
totemisme (produk-produk ditampilkan sebagai suatu tanda/indikator bagi suatu
kolektivitas yangdidefinisikan melalui penampilan dan aktivitasnya). Sejalan
dengan itu, pengkomunikasian pesan iklan dengan menggunakan penampakan luar
menjadi dominan; konsumsi menjadi suatu fenomena tontonan. Produk dikaitkan
dengan citra yang menjadi perlambang dari kolektivitas sosial yang mengasosiasikannya
dengan gaya hidup.[16]
Dengan demikian Periklanan pun menjadi salah satu agen
yang ikut memformulasikan kerangka-kerangka kultural gaya hidup citraan yang
terus menerpa kehidupan masyarakat. Seperti diungkapkan oleh Ibrahim dalam
Chaney bahwa dalam era globalisasi yang berperan besar dalam membentuk budaya
citra (image culture) dan budaya cita rasa (taste culture) adalah gempuran
iklan yang menawarkan gaya visual yang
kadang-kadang memesona dan memabukkan. Ujarnya pula, iklan merepresentasikan
gaya hidup dengan menanamkan secara halus (subtle) arti pentingnya citra diri
untuk tampil di depan publik. Secara perlahan pula iklan mempengaruhi pilihan
cita rasa yang kita buat.[17]
Bahkan, tambahnya pula, Marshall Mcluhan, kritikus media
terkemuka, menyebut iklan sebagai karya seni terbesar abad-20 karena iklan
dapat bertindak sebagai penentu kecenderungan, tren, mode, dan pembentuk
kesadaran manusia modern. Meskipun, tidak semua orang akan begitu mudah terpengaruh
oleh bujuk rayu iklan namun sedikit banyak iklan dapat menjadi saluran wacana
(channel of discourse) mengenai konsumsi dan gaya hidup mutakhir.
3. METROSEKSUALITAS
DALAM IKLAN SEBAGAI WACANA GAYA HIDUP POSMODERN
Tumbuhnya kecenderungan metroseksual di kehidupan
masyarakat dilihat dari wacana budaya populer merupakan suatu cerminan dari
perubahan sosial yang diakibatkan oleh globalisasi ekonomi dan informasi yang
melenyapkan batas-batas teritorial misalnya
negara, bangsa, kesukuan, kepercayaan, politik, dan budaya. Luruhnya
batasan-batasan ini juga berimbas secara signifikan pula pada pola berpikir dan
stereotip yang dibentuk oleh pola pemikiran modern tentang maskulinitas.
Seperti halnya Pria telah melampaui batas-batas gender dengan melakukan suatu
ritual, dalam hal ini perawatan tubuh, yang selama ini menjadi stereotip kaum
hawa dalam konstruksi sosial pada umumnya. Pria menurut pandangan umum yang
berlaku adalah sosok jantan, kekar, untuk menggambarkan dominasinya akan
kekuasaan dan kelebihannya dibandingkan perempuan. Sosok yang semula dipandang
yang kuat untuk melindungi telah bergeser menjadi lebih sensitif akan
penampilannya. Kertajaya menyebut ini sebagai WOMEN volution[18]dimana
urusan pria sekarang ini tidak hanya bekerja dan mencari uang tetapi juga
memperhatikan penampilannya dan bersikap emosional. Salah satu contohnya adalah
David Beckham. Meskipun profesinya adalah pemain sepak bola dia tidak lupa
menjaga penampilannya dengan memoleskan pewarna kuku pada jari-jari kakinya.
Akankah metroseksualitas hanya akan bertahan sebagai
trend atau merupakan suatu bentuk evolusi sosial yang akan berkembang? Kalau
melihat perkembangan metroseksual bisa jadi bukanlah hanya trend sesaat saja.
Media dan iklan yang terus mengekspos gaya dan kehidupan selebritis seperti
Beckham di atas serta produk-produk berbau metroseksual menjadi umpan yang
begitu menarik perhatian publik dan terutama orang-orang berduit. Gaya hidup
posmodern semakin menunjang hal itu dimana dalam masyarakat yang semakin
konsumtif tampilan permukaan dan gaya menjadi lebih penting. Seperti yang
diungkapkan oleh Harvey dalam Strinati bahwa “citraan mendominasi narasi”
dimana masyarakat sering mengkonsumsicitra maupun tanda itu sendiri dan
bukannya substansi, isi dan maknanya/kegunaannya.[19]
Masyarakat dipenuhi oleh citraan-citraan yang ditampilkan
dalam iklan-iklan dimana produkprodukditampilkan sebagai suatu tanda/indikator
bagi suatu kolektivitas yang didefinisikan melalui penampilan dan citraan.
Narsisisme sebagai titik tolak gaya hidup metroseksual seperti yang diutarakan
Simpson, mengadopsi nilai “cintraan mendomonasi narasi” tersebut. Seperti diutarakan
Lasch (dalam Piliang) dimana narsisisme ini sebagai satu dimensi dan kondisi
psikologis seseorang dimana dia mengalami ketergantungan pada citraan diri dan
ilusi yang menyertainnya serta pengakuan akan hal tersebut dari masyarakat.[20]
Kekuatan citra yang hadir dalam masyarakat konsumtif
adalah hasilan dari - yang disebut
Kundera-produsen „ideologi‟ dan sekaligus pendefinisi kenyataan.[21]Siapa
saja itu? Kundera menyebutkan diantaranya biro iklan, manajer kampanye,
perancang mode, perekayasa peralatan gimnastik, penata rambut, bintang showbiz.
Mereka inilah agen-agen penjual citra yang mendiktekan idealitas kecantikan/ketampanan
dan nilai-nilai keindahan tubuh lewat televisi, film, iklan dan juga dalam
dunia olahraga.[22]
Gaya hidup metroseksualitas yang hadir di tengah-tengah
masyarakat dengan ideologi sosok narcissistic dengan penampilan dandy[23],
konsumtif, memanfaatkan leisure time-nya di klub, spa, salon, butik, penata
rambut, restoran, dan toko ternama merupakan hasil dari keahlian para produsen
„ideologi „ tersebut dalam membangkitkan kebutuhan akan estetisikasi penampilan
dalam kehidupan sehari-hari melalui bentuk-bentuk penawaran seperti iklan
produk-produk kecantikan yang melakukan penawaran keahliannya dalam perawatan
rambut, wajah, laser, blue peel, teta peel dan sebagainya yang tidak hanyaditawarkan
kepada kaum wanita namun juga pria sehingga kalau diperhatikan mulai banyak
pria terkena imbas dari „wacana gaya hidup metroseksual‟ yang dengan setia mengunjungi
tempattempat spa dan beauty clinic yang terus merebak bak jamur di waktu hujan.(Sumber:
Jawa Pos, Rabu, 11 Agustus 2004, halaman 35.) Gambar 2. Model Metroseksual
dalam iklan jasa beauty & slimming clinic di Surabaya
Dengan demikian ideologi citraan dan tubuh menjadi begitu
penting bagi kaum metroseksual dan hal itu nampaknya sekarang telah merasuki
kehidupan masyarakat dengan semakin menjamurnya produk-produk kebutuhan bagi
pria metroseksual dalam menjaga keindahan tubuh dan keselarasan diri sebagai perwujudan
citraan diri dalam kehidupannya; persis dengan idealitas kecantikan/ketampanan
yang dipropagandakan iklan. Inilah metroseksual yang berdasarkan istilah
Ibrahim sebagai cerminan „antagonisme kultural‟ yang paling naïf[24].
Dalam nuansa masyarakat konsumtif dimana kaum metroseksual berada di dalamnya,
merasa „mati‟ kalau tidak tampil dandy karena ideologi citraan mereka adalah
survival of the fittest dimana tampil gaya dan berbeda adalah karakter
keharusan bagi seorang metroseksual. Diferensiasi sebagai suatu proses
membangun identitas melalui perbedaan produk, gaya dan gaya hidup nampak jelas
dalam iklan yang menampilkan pria-pria dandy (cantik-pesolek namun tetap gagah
dan anggun). Hal ini dalam bahasa estetik posmodern disebut dengan camp,
suatu modelestetisisme (bukan dalam pengertian keindahan melainkan dalam
pengertian keartifisialan dan stylization) yang lebih menekankan pada dekorasi,
permukaan sensual, dan gaya dengan mengorbankan isi, anti identitas seksual,
berlebihan, spesial, dan glamour.[25] Iklan tersebut telah membuka saluran wacana (channel
of discourse) baru khususnya bagi kaum pria berduit untuk memanfaatkan
leisure time-nya melalui uang dan kekayaannya dengan memanjakan diri dan
melepaskan diri dari „ketersiksaan‟ dan „kepenatan‟ rutinitas sehari-hari plus
tersematkannya identitas baru pada diri mereka dari masyarakat. Hingga hal ini
mungkin dapat menjadi contoh penjelas asumsi Zablocki dan Kanter (dalam Chaney)
yang mengatakan bahwa eksperimentasi gaya hidup berlangsung pada orang-orang
yang peran ekonomi dan pekerjaannya tidak lagi menghadirkan seperangkat nilai
yang koheren dan bagi mereka identitas dapat dimunculkan melalui realisme
konsumsi daripada produksi.[26]
Akibatnya adalah saat ini, saluran wacana itu terus bergeser dari saluran
wacana (channel of discourse) menjadi semacam saluran hasrat (channel of desire)
bagi kaum muda berduit untuk mendapatkan citraan diri dan pemaknaan hidup sebagai kaum metroseksual.
BAB II
SIMPULAN
SIMPULAN
Mengutip pernyataan Adarno (dalam Ibrahim) bahwa iklan
mengundang manusia untuk melihat satu karakter dengan cara yang sama ia melihat
dirinya, tanpa sadar bahwa sebenarnya telah terindoktrinasi.[27]
Demikian juga trend gaya hidup metroseksual yang merambah
kota-kota besar semakin menunjukkan pengaruhnya. Awalnya yang adalah sekedar
wacana kini telah merasuki dan menjadi trend kehidupan kelas menengah ke atas.
Iklan dengan bentuk penawarannya yang glamour telah menawarkan nilai-nilai simbolik
tertentu, didukung dengan globalisasi informasi dalam kehidupan manusia yang semakin
konsumtif, menyebabkan gaya hidup metroseksual menjadi tidak sekedar fenomena
lagi namun telah menjadi suatu identitas sosial yang membedakan si pemilik
identitas tersebut dengan individu lainnya dalam kehidupan sosialnya. Dalam hal
ini, gaya hidup konsumtif telah melahirkan lagi satu bentukannya melalui
produk-produk gaya berpenampilan yang serba
glamour dan eksperimental pada pria.
Sebagaimana terbentuknya kelas sosial di masyarakat, gaya
hidup metroseksual pun ada kemungkinan akan menempatkan dirinya pada struktur
sosial masyarakat senyampang budaya konsumsi, tubuh, dan citra masih melekat
dalam benak dan relung hati manusia.
DAFTAR
PUSTAKA
Chamim, Mardiyah. Bertemu Pria-pria Venus.
Tempo 01/XXXIII, 2004.
Chaney, David. Life Styles: Sebuah Pengantar
Komprehensif terj. Nuraeni. Yogyakarta, 2004.
Featherstone, Mike. Posmodernisme dan Budaya
Konsumen, terj. Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta, 2001.
Ibrahim, Idi Subandy. Ekstasi Gaya Hidup:
Kebudayaan Pop Dalam Masyaralkat Komoditas Indonesia. Bandung, 1997.
Kertajaya, Hermawan. Marketing in Venus.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Piliang, Yasraf Amir. Sebuah Dunia yang Dilipat.
Bandung, 1998.
Santoso, Banny, “Pria Metroseksual,” Get Life 06
(2004), hal. 39. “Pria Metroseksual,”. (2004).
Simpson. mengambil analogi dari mitologi Yunani
tentang pemuda yang terpesona menatap pantulan.
Strinati, Dominic. Popular Culture: Pengantar
Menuju teori Budaya Populer, terj. Abdul Mukhid. Yogyakarta, 1995.
[1] Benny Santoso, “Pria Metroseksual,” Get Life 06 (2004),
hal. 39
[2] Mardiyah Chamim, et al., “Bertemu Pria-Pria Venus,” Tempo
01/XXXIII (30-7 Maret 2004), hal. 56
[3] Simpson mengambil analogi
dari mitologi Yunani tentang pemuda yang terpesona menatap pantulan
wajahnya sendiri di permukaan air kolam.
[4] Op. cit., hal. 56-57
[5] Hermawan Kertajaya, et
al., Marketing in Venus, (Jakarta:PT
Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal. 21.
[6] Ibid.
[7] Ibid, 17.
[8] David Chaney, Life Styles: Sebuah Pengantar Komprehensif ,
terj. Nuraeni, (Yogyakarta, 2004), hal. 40.
[10] Ibid., hal. 92.
[11] Ibid, hal. 156-157.
[12] Ibid, hal.158.
[13] Ibid., hal. 85.
[14] Ibid., hal. 167-170. (Chaney dalam catatan akhirnya menuliskan
bahwa suatu titik berat terhadap tampakan
luar
ada kaitannya dengan teorisasi budaya posmodern).
[15] Mike Featherstone, Posmodernisme dan Budaya Konsumen, terj.
Misbah Zulfa Elizabeth, (Yogyakarta,
2001), hal.162.
[16] Ibid., hal. 177.
[17] Ibid., hal.19.
[18] Kertajaya, et.al., op.cit., hal. 20.
[19] Dominic Strinati, Popular Culture: Pengantar Menuju teori
Budaya Populer, terj. Abdul Mukhid,(Yogyakarta, 1995), hal. 257.
[20] Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia yang Dilipat, (Bandung,
1998), hal.57
[21] Idi Subandy Ibrahim, Ekstasi Gaya Hidup: Kebudayaan Pop Dalam Masyaralkat Komoditas
Indonesia
(Bandung, 1997), hal. 25
[22] Ibid, hal. 26.
[23] Chaney beranggapan bahwa
dandyisme merupakan inovasi budaya posmodern dimana para individu
menggunakan desain gaya personalnya sebagai
suatu bentuk praktik seni bergerak dalam suatu estetisasi
kehidupan sehari-hari.
[24] Agen-agen industri
kebudayaan membangun kekuasaan bukan dengan intimidasi dan teror yang kasar dan
telanjang tapi bagaimana membuat orang
merasa „mati‟ kalau tidak tampil trendy, kaya, cantik, awet muda
dan serba wah.
[25] Piliang, op.cit., hal. 307.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar